2019-08-16

TEKNIK BUDIDYA TANAM PADI SEKALI TANAM PANEN BERULANG-ULANG( SALIBU)

BPTP LAMPUNG
...

Budidaya padi Salibu menjadi langkah terobosan untuk memacu produktivitas dan produksi padi nasional. Teknik budidayanya sederhana dan tidak rumit terbukti lebih efisien dan murah dibandingkan teknik budidaya padi biasa dapat meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan indek panen dari sekali menjadi dua sampai tiga kali panen setahun .Hasil ujicoba di beberapa daerah menunjukkan budidaya Salibu menjanjikan untuk dikembangkan memberi harapan baru untuk meningkatkan indeks pertanaman sekaligus produksi beras nasional. Tingkat keberhasilan budidaya padi salibu sangat ditentukan oleh pertumbuhan tanaman utamanya. Tanaman utama untuk budidaya padi salibu sebaiknya mengaplikasikan  PTT. Penerapan PTT yang baik akan berdampak pada peningkatan potensi hasil pada padi salibu, seperti sistem tanam jajar legowo 2 : 1 dan 4 : 1, penggunaan benih bermutu dan bersertifikat.

 

Secara genetik beberapa varietas padi yang mempunyai potensi ratun tinggi dapat dijadikan acuan untuk budidaya padi salibu

Kelompok

Varietas

Potensi Ratun (%)

Hibrida

Rokan

99,3

 

Maro

76,8

 

Hipa-4

100,0

 

Hipa-5 Ceva

75.9

Inbrida

Cimelati

 

 

Inpari 19

84,9

 

Inpari 23

72,4

 

Inpari 24

69,8

 

Inpari 25

69,3

 

Batang Piaman

64,9

 

Inpari 32

62,9

 

Agroekosistem Budidaya Padi Salibu

 Bukan daerah endemik OPT  khususnya  penyakit  tungro, busuk batang, hawar daun bakteri, keong mas, dan lain-lain, Ketersediaan air mudah dikondisikan dan cukup, Tidak terjadi genangan dan kekeringan yang lama, Drainase baik, Kondisi air tanah pada saatdua minggu sebelum dan setelah panen sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (lembab).Pengembangannya disarankan pada hamparan dengan luas minimal 25 ha untuk mengurangi OPT

Teknis Pemotongan Jerami

  • Saat terbaik panen padi yang dipersiapkan untuk Salibu batang jerami masih hijau, bulir padi belum matang  penuh  dan  kering (5 hari sebelum umur panen yang tertera pada diskripsi varietas).
  • Panen tanaman utama dengan meninggalkan sisa batang sekitar 25 cm dari permukaan tanah
  • Jika lahan terlalu kering lakukan penggenangan 1-2 hari, kemudian air dikeluarkan sampai tanah lembab/kapasitas lapang.
  • Dibiarkan selama 7-10 hari hingga keluar tunas baru
  • Apabila tunas yang keluar kurang dari 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.
  • Pemotongan jerami setinggi 3-5 cm dari permukaan tanah.
  • Pada saat pemotongan jerami, keadaan sawah dipastikan tidak tergenang.
  • Potongan jerami diletakkan di sekitar tunggul sehingga menjadi mulsa yang dapat menekan pertumbuhan gulma dan bahan organik

http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/images/stories/foto2019b/salibu2.jpg

 

Pengairan

  • Sekitar 7 HSP jerami, tunas-tunas baru sudah  tumbuh merata menjadi anakan padi.
  • Saat itu lahan sawah sudah dapat diairi seperti halnya pada tanaman biasa
  • Pengairan dimaksudkan selain untuk memenuhi kebutuhan air bagi   tanaman padi, juga untuk menekan pertumbuhan gulma.
  • Pengaturan air pada awal pertumbuhan merupakan kunci keberhasilan untuk   penumbuhan tunas dan anakan.

Penyulaman

  • Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 15 – 20 HSP jerami.
  • Caranya dengan memecah (2 -3 anakan) tunas yang tumbuh hingga perakarannya,
  • Kemudian disulamkan ke lokasi rumpun yang tidak tumbuh

http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/images/stories/foto2019b/salibu3.jpg

 

Pemupukan

  • Untuk mendapatkan hasil yang optimal pemupukan padi salibu  dilakukan  sama  dengan  tanaman utama
  • Rekomendasi pemupukan spesifik lokasi, berdasarkan: Permentan No : 40/Permentan/ OT.140/4/2007, atau BWD, PUTS, PHSL, KATAM Terpadu
  • Pemupukan pertama pada saat tanaman berumur 15 – 20 HSP, diberikan sebanyak 40% dari dosis
  • Pemupukan kedua pada saat tanaman berumur 30 -35 HSP, diberikan sebanyak 60% dari dosis

Pengendalian gulma

  • Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan gasrok/landak
  • Penyiangan dengan gasrok selain membuang gulma juga bertujuanntuk menggemburkan tanah dan perbaikan sistem perakaran tanaman salibu

Panen

  • Panen padi salibu dilakukan saat warna gabah menguning (95%) dan batang masih hijau
  • Panen menggunakan thresher atau sabit
  • Sisa tanaman maksimal 25 cm dari permukaan tanah (jika dipersiapkan untun tanaman salibu berikutnya)
  • Teknologi padi salibu dapat menghemat waktu pertanaman sekitar 40 hari dibanding dengan tanam pindah
  • Tingkat produksi tanaman salibu sesuai input yang diberikan, diharapkan mampu berproduksi minimal sama dengan tanaman induknya.

 

 

 Budidaya padi Salibu menjadi langkah terobosan untuk memacu produktivitas dan produksi padi nasional. Teknik budidayanya sederhana dan tidak rumit terbukti lebih efisien dan murah dibandingkan teknik budidaya padi biasa dapat meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan indek panen dari sekali menjadi dua sampai tiga kali panen setahun .Hasil ujicoba di beberapa daerah menunjukkan budidaya Salibu menjanjikan untuk dikembangkan memberi harapan baru untuk meningkatkan indeks pertanaman sekaligus produksi beras nasional. Tingkat keberhasilan budidaya padi salibu sangat ditentukan oleh pertumbuhan tanaman utamanya. Tanaman utama untuk budidaya padi salibu sebaiknya mengaplikasikan  PTT. Penerapan PTT yang baik akan berdampak pada peningkatan potensi hasil pada padi salibu, seperti sistem tanam jajar legowo 2 : 1 dan 4 : 1, penggunaan benih bermutu dan bersertifikat.

 

Secara genetik beberapa varietas padi yang mempunyai potensi ratun tinggi dapat dijadikan acuan untuk budidaya padi salibu

Kelompok

Varietas

Potensi Ratun (%)

Hibrida

Rokan

99,3

 

Maro

76,8

 

Hipa-4

100,0

 

Hipa-5 Ceva

75.9

Inbrida

Cimelati

 

 

Inpari 19

84,9

 

Inpari 23

72,4

 

Inpari 24

69,8

 

Inpari 25

69,3

 

Batang Piaman

64,9

 

Inpari 32

62,9

 

Agroekosistem Budidaya Padi Salibu

 Bukan daerah endemik OPT  khususnya  penyakit  tungro, busuk batang, hawar daun bakteri, keong mas, dan lain-lain, Ketersediaan air mudah dikondisikan dan cukup, Tidak terjadi genangan dan kekeringan yang lama, Drainase baik, Kondisi air tanah pada saatdua minggu sebelum dan setelah panen sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (lembab).Pengembangannya disarankan pada hamparan dengan luas minimal 25 ha untuk mengurangi OPT

Teknis Pemotongan Jerami

  • Saat terbaik panen padi yang dipersiapkan untuk Salibu batang jerami masih hijau, bulir padi belum matang  penuh  dan  kering (5 hari sebelum umur panen yang tertera pada diskripsi varietas).
  • Panen tanaman utama dengan meninggalkan sisa batang sekitar 25 cm dari permukaan tanah
  • Jika lahan terlalu kering lakukan penggenangan 1-2 hari, kemudian air dikeluarkan sampai tanah lembab/kapasitas lapang.
  • Dibiarkan selama 7-10 hari hingga keluar tunas baru
  • Apabila tunas yang keluar kurang dari 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu.
  • Pemotongan jerami setinggi 3-5 cm dari permukaan tanah.
  • Pada saat pemotongan jerami, keadaan sawah dipastikan tidak tergenang.
  • Potongan jerami diletakkan di sekitar tunggul sehingga menjadi mulsa yang dapat menekan pertumbuhan gulma dan bahan organik

http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/images/stories/foto2019b/salibu2.jpg

 

Pengairan

  • Sekitar 7 HSP jerami, tunas-tunas baru sudah  tumbuh merata menjadi anakan padi.
  • Saat itu lahan sawah sudah dapat diairi seperti halnya pada tanaman biasa
  • Pengairan dimaksudkan selain untuk memenuhi kebutuhan air bagi   tanaman padi, juga untuk menekan pertumbuhan gulma.
  • Pengaturan air pada awal pertumbuhan merupakan kunci keberhasilan untuk   penumbuhan tunas dan anakan.

Penyulaman

  • Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 15 – 20 HSP jerami.
  • Caranya dengan memecah (2 -3 anakan) tunas yang tumbuh hingga perakarannya,
  • Kemudian disulamkan ke lokasi rumpun yang tidak tumbuh

http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/images/stories/foto2019b/salibu3.jpg

 

Pemupukan

  • Untuk mendapatkan hasil yang optimal pemupukan padi salibu  dilakukan  sama  dengan  tanaman utama
  • Rekomendasi pemupukan spesifik lokasi, berdasarkan: Permentan No : 40/Permentan/ OT.140/4/2007, atau BWD, PUTS, PHSL, KATAM Terpadu
  • Pemupukan pertama pada saat tanaman berumur 15 – 20 HSP, diberikan sebanyak 40% dari dosis
  • Pemupukan kedua pada saat tanaman berumur 30 -35 HSP, diberikan sebanyak 60% dari dosis

Pengendalian gulma

  • Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan gasrok/landak
  • Penyiangan dengan gasrok selain membuang gulma juga bertujuanntuk menggemburkan tanah dan perbaikan sistem perakaran tanaman salibu

Panen

  • Panen padi salibu dilakukan saat warna gabah menguning (95%) dan batang masih hijau
  • Panen menggunakan thresher atau sabit
  • Sisa tanaman maksimal 25 cm dari permukaan tanah (jika dipersiapkan untun tanaman salibu berikutnya)
  • Teknologi padi salibu dapat menghemat waktu pertanaman sekitar 40 hari dibanding dengan tanam pindah
  • Tingkat produksi tanaman salibu sesuai input yang diberikan, diharapkan mampu berproduksi minimal sama dengan tanaman induknya.

 

 

 

Sub Sektor : Padi
Komoditas : Tanaman Pangan
Teknologi yang Digunakan :
http://lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/45-budidaya/1269-teknik-budidya-tanam-padi-sekali-tanam-panen-berulang-ulang-salibu